3 Hal Mengganggu Di Tahun Baru

Happy New Year

Tidak terasa kita sudah berada dipenghujung tahun 2015 teman-teman sebangsa dan sewarganegara. Apakah benar tidak terasa? Salah besar! Yakali setahun habis nggak terasa, situ malin kundang? Kalo iya okedeh. Mumpung kita masih dalam momen penghujung tahun, atau ya hanya penghujung bulan Desember 2015, saya ingin membahas tentang hal tersebut.

Setiap akhir tahun ada saja perbuatan orang-orang yang mengganggu kehidupan dan ketentraman saya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tahun baru, namun beberapa oknum yang sering dipanggil “cabe” atau “alay” atau apalah mereka  sering sekali melebih-lebihkan apa yang harusnya terjadi biasa saja, menjadi sebuah fenomena yang sangat luar biasa super duper cememew cemimiw (begitulah).  Oke mari kita bahas satu-persatu.

  1. RESOLUSI

Resolusi! Bisa saya pastikan kalian akan sering mendengar kata-kata ini hanya dipenghujung tahun saja. Sabar ya, Resolusi 😦 .  Banyak orang-orang diluar sana yang-setiap-akhir-tahun menyampaikan resolusinya dan di-post di publik atau social media. Pokoknya semua orang harus tahu. WHY? JUST WHY!!? Kami semua harus tahu kalau di 2016 situ harus turun 20kg? Nah, bagaimana jika tidak berhasil turun 20kg? Merasa bersalah kah? Ada hukumannya kah? Tidak. Ujung-ujungnya dijadiin resolusi setiap tahun yang tidak pernah terealisasi. Gitu aja terus sampai dajjal turun ke bumi. Amit amit. Resolusi ini bagi saya hanya kata-kata manis setiap akhir tahun, sebagai pencitraan pada umumnya. Mungkin tidak semua orang hanya omong doang sih, tapi sebagian besar iya. Resolusi yang benar itu berjanji pada diri sendiri, percaya sama diri sendiri kalau bisa melakukannya, dan yang paling penting emang bener-bener dilakukan. Resolusi tidak harus setiap tahun. Resolusi itu bukan ikut-ikutan. Kalau kita mau berubah ya semua tergantung diri kita bukan orang lain. Camkan itu camkan!

  1. TEROMPET

Oke, yang kedua kenapa terompet? Jujur saya tidak suka dan cenderung kasihan dengan kehadiran terompet.  Suara mereka itu gimana ya menjelaskannya, cempreng lah pokoknya. Nggak enak didenger lah kayak omelan pacar. Dan mengapa saya kasihan? Mereka hanya disuruh datang beberapa hari saja, dan digunakan hanya untuk beberapa jam saja. Sehabis digunakan, mereka terbuang. Pernah sekali saya menghadiri acara tahun baru yang berakhir menyedihkan. Terdapat setidaknya 200 terompet bergeletakan ditanah, tidak sadarkan diri setelah acara puncak malam tahun baru. Mereka diinjak, mereka tertindas dan terlupakan, mereka hanya dimanfaatkan. Saya sedih, makanya saya tidak pernah membeli terompet lagi. Selain niupnya bikin sakit tenggorokan, saya paham betul rasanya dicampakkan setelah dimanfaatkan. Iya sakit.

  1. MACET

Macet di tahun baru seperti konferensi serentak diberbagai kota. Kita sudah tahu kalau dijalanan bakalan macet, tapi tetap aja menghadirinya, kan? Ini sama halnya dengan, kita udah tahu kalau akhirnya bakal putus, tapi tetap aja dipaksakan. Sia-sia. Kalau dibeberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan yang orang-orangnya sudah terlatih dengan kemacetan, saya lebih nggak habis pikir. Please, kalian sudah menghabiskan setiap hari untuk macet-macetan dijalan, kenapa harus ada satu malam yang dihabiskan bersama untuk macet-macetan (lagi)?

Jika saya merasa terganggu dengan 3 hal diatas, lalu tahun baru saya seperti apa? Pastinya sangat elegan.

Tentu saja tanpa resolusi, karena saya belum tahu bakalan ngapain ditahun yang baru. Tanpa terompet dan tanpa kemacetan. Tahun baru saya akan sangat menyenangkan dan menenangkan. Saya akan berada di tempat sepi, sendiri, hening, dan hanya musik dari mp3 yang menemani. Ini hanya pergantian tahun kan? Bukan pergantian hidup. Kita terbangun di esok hari bukan menjadi seseorang yang baru.  Melainkan seseorang yang sama dengan beban hidup yang sama. Singkatnya, tahun baru saya kali ini menyedihkan, diatas tumpukan bantal sendirian.

Anyway, Selamat tahun baru!

Tulisan ini hanya untuk bersenang-senang, hidup jangan terlalu serius. Mari tertawakan hidup kita yang menyedihkan ini bersama-sama.

Wassalam.

 

Di dalam kegelapan Jakarta, Akhir Desember 2015

Written by : Rifathabib Nst

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s