Aisyah untuk Faaris

Aisyah untuk Faaris

“Masya Allah dia tampan sekali Aisy” Shifa menyikutku tampak dibinar matanya sorot kekaguman yang luar biasa pada sosok pria yang berdiri tegak didepan lapangan  sedang memberikan kultum dipagi jumat ini. Dia Faaris Salam__murid kelas X11  Ipa 1 yang most wanted di MA Miftahul Huda ini. Selain paras yang menawan, kak Faaris_biasa aku memanggilnya_juga seorang ketua Rohis dan hafiz Qur’an serta pemegang juara satu umum semester kemarin. Bisa disimpulkan untuk jatuh cinta pada kak Faaris bukanlah hal yang sulit.

“Jadi untuk sahabat-sahabatku yang dirindukan surga,  jatuh cinta itu merupakan fitrah seorang hamba, kita sebagai remaja yang sedang berjuang untuk dirindukan surga,jangan menodai fitrah cinta tersebut. Jatuh cinta itu enggak perlu diumbar, karena tulang rusuk itu enggak akan tertukar“

Kak Faaris memberikan kesimpulan kultum nya pagi ini yang bertema “Jatuh cinta ala remaja yang sedang berjuang untuk dirindukan surga”. Aku bisa melihat sorot kekaguman dari beberapa pasang mata sahabat-sahabat ku. Tak terkecuali Shifa.

“Aaaa Aisy dia keren banget Aisy, semoga calon masa depan aku ya Aisy hihihi“ aku hanya menggeleng melihat polah Shifa yang lagi terserang virus merah jambu, salah tingkah. Melihatku yang tanpa berkomentar, Shifa lagi-lagi menyikutku “Aamiinin dong” rajuknya yang bikin aku mau tak mau menarik bibir mengadiahi Shifa dengan lengkungan kecil dibibirku..

“Aamiin”.

Kak Faaris itu kalau dibikin metafora seperti bintang sirius di rasi canis mayoris. Dia bersinar terang diantara bintang lainnya, dan semua orang mengagumi cahaya birunya__termasuk aku. Bergabung dibawah organisasi yang sama yaitu rohis,sedikit banyak nya membuat perasaan ku pada kak Faaris bertambah setiap harinya. Aku tak memungkiri bahwa aku juga merasakan apa yang Shifa rasakan bahkan mungkin semua akhwat disekolah ini. Lagipula aku sudah pernah bilangkan jatuh cinta pada kak Faaris itu bukanlah hal yang sulit?

Ini merupakan tahun terakhir kak Faaris di sekolah ini, tinggal menghitung hari lagi pengumuman kelulusan untuk kelas X11. Sementara aku masih harus menunggu setahun lagi untuk merasakan momen deg-degan menanti kelulusan karena aku masih duduk dikelas XI. Aku mendengar bahwa kak Faaris diterima di universitas Al-Azhar Mesir untuk program studi tafsir hadist. Kami memberikan ucapan selamat pada kak Faaris sore ini yang diwakilkan olehku sebagai ketua keputrian karena wakil rohis__kak Fudho tidak bisa hadir.

“Tahniah buat kak Faaris, semoga nanti nya ilmu yang didapat bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Dan doakan juga ya semoga kami juga bisa menyusul langkah kak Faaris, Barakallahu” ucapku mewakili anggota rohis menyampaikan selamat. Rasanya jantungku berdetak berkali-kali lipat dari biasanya hanya karena aku menyebut namanya. Memang interaksi ku dengan kak Faaris jarang sekali. Karena aku berada dalam keputrian. Dan bisa dihitung jari aku menyebut namanya itupun mungkin ketika rapat seluruh keanggotaan rohis.

“Ya Allah yang menggenggam hatiku, jika dia jodoh hamba dekatkanlah, jika dia bukan jodoh hamba beri hamba kekuatan untuk menerima kenyataan Rabb..”

“Aisyah, jadi datang gak nih akikahan Nizam?” aku mendengar Shifa merengek-merengek diujung telepon seperti bayi. Aku tertawa. Besok Shifa akan melaksanakan akikah untuk putra pertamanya dengan Arsil. Aku merasa bersalah karena tidak hadir dimomen bahagia Shifa. Bukan enggak mau tapi waktu itu aku dikirim ke Palestina sebagai tenaga medis untuk rumah sakit Indonesia yang dibangun di distrik Beit Lahiya Gaza Utara. Ku dengar Arsil adalah pria yang baik dan soleh. Saat ini Arsil bekerja  sebagai Sistem Analis di perusahaan Google, Jakarta.

“Insya Allah”sahutku, aku mendengar Shifa berteriak senang diujung sana.

“Insya Allah apa dulu nih? Insya Allah iya apa enggak?” lagi-lagi Shifa merajuk. Ya ampun udah  nyaris kepala tiga, Shifa masih aja suka merajuk.

“Insya Allah iya sayang” ucapku geram menahan tawa.

“Ditunggu loh ya, sekalian bawa calon nya  “ Shifa menggoda diujung sana, aku hanya bisa tertawa.

” haha,udah dulu ya Aisy nelpon kamu kena roaming internasional mulu, kamu sih jauh banget, assalamualaikum sahabat cantikku” Shifa menutup telponnya.

Aku terlambat menyadari bahwa aku nyaris kepala tiga. Semua sahabat-sahabatku di MA hampir sudah menikah, termasuk Shifa. Bahkan yang lain ada yang sudah punya anak tiga,sedangkan aku ?

Jujur saat ini aku masih mengharapkan kak Faaris meskipun seperti mengharapkan matahari terbit dipucuk senja. Sejak aku mewakili untuk mengucapkan selamat pada kak Faaris dua belas tahun lalu, aku enggak pernah lagi mendengar kabar tentangnya. Barangkali dia sudah menikah dan dikeliling malaikat kecilnya. Lagipula wanita mana yang tidak akan naksir dengan pria seperti kak Faaris yang nyaris sempurna.

Bukannya aku menutup hati untuk pria lain, aku pernah hampir menikah lima tahun lalu, abah menjodohkan ku dengan seorang putra kiyai, tapi namanya tidak jodoh, kami memutuskan tidak jadi melangsungkan pernikahan karena dia sudah memiliki pilihan dan aku pun belum siap untuk menikah.

Sesuai janji ku pada Shifa, aku mengambil cuti beberapa hari dan mengambil penerbangan dari Mesir.

“Masya Allah Aisyah, kamu cantik sekali” puji Shifa sembari memelukku seerat mungkin, dia tidak peka kalau aku hampir kehabisan nafas karena pelukannya.

Shifajuga tidak banyak berubah, masih Shifa ku yang dulu hanya saja badannya agak gemuk,mungkin efek usai melahirkan.

“Mas ini kenalkan sahabat aku yang sering aku ceritain ke kamu” aku menegang melihat siapa yang berdiri didepan ku saat ini.

“Aisyah”ucapku gugup. Demi Allah Arsil mirip sekali dengan kak Faaris. Aku hampir tidak bisa mengontrol diri.

“Ayo masuk Aisy, Nizam lagi nunggu tante Aisyah nih” celoteh Shifa sembari mengajakku masuk kekamar Nizam. Akikahan Nizam sudah selesai dua jam lalu. Lagi-lagi aku ketinggalan momen bahagia Shifa karena pesawat delay beberapa jam.

“kamu pasti syok kan ngelihat mas Arsil tadi? Hihi dia emang mirip banget sama adiknya”ucap Shifa sembari mengambil Nizam dari ayunan

Aku menggendong Nizam dan mencium puncak kepala bayi berusia 40 hari tersebut.  Aku menautkan alis mendengar guyonan Shifa.

“Ingat gak Aisy, kak Faaris yang aku sukai dulu ternyata dia adik nya Mas Arsil haha, lucu ya Aisy, aku suka nya dulu sama kak Faaris eh jodoh malah sama abangnya.” Shifa tertawa. Aku diam beberapa saat. Ingin sekali aku bertanya kepada Shifa apakah kak Faaris sudah menikah, namun pertanyaan itu hanya terkulum dibibir.

“Berarti doakamu terkabul dong, ya walaupun gak sama kak Faaris tapi yang penting persis” ucapku tertawa menimang-nimang Nizam, aku sedang mencoba menetralkan perasaanku.

“iya Aisy, eh ngomong-ngomong kamu udah punya calon belum?” kan kan, Shifa lagi-lagi menggodaku. Aku hanya mengendikkan bahu. Sesuatu yang hangat mengalir di baju gamisku.

“Yah dede Nizam nakal nih sama tante, baru ketemu udah dipipisin aja ” aku buru-buru mengganti popok Nizam, sekalian mengalihkan jejeran pertanyaan Shifa yang bikin hati nyesek.

“Bagus deh kalo belum, soalnya ada yang nungguin kamu dari dulu” ujar Shifa tersenyum. Aku tidak bisa mengartikan maksud Shifa. Otakku keburu lemot.

“Yuk,,aku kenalin sama keluarga mas Arsil” Shifa mengajakku keluar dari kamar Nizam. Tadi aku hanya sempat berkenalan dengan mas Arsil karena Shifa langsung mengajakku kekamar Nizam.

Tiga meter dari jarak aku berdiri saat ini, aku bisa melihat kak Faaris tersenyum. Senyumnya masih sama seperti dulu, senyum pengantar pagi milik kak Faaris__menyejukkan. Rasanya kakiku mendadak jadi jelly. Kenapa aku jadi semenye-menye ini? Kecewekan sekali. Selesai menyalami ibu dan mertua Shifa yang tak lain adalah ibu kak Faaris, aku mendadak jadi kaku. Semuanya malah pergi kedapur meninggalkan aku sendiri dengan kak Faaris yang duduk didepanku. Satu detik dua detik tidak ada percakapan yang terjadi. Padahal begitu banyak pertanyaan yang tersetting dikepalaku seperti ‘Gimana kabar kakak?’ atau ‘Kakak sekarang kerja dimana?’ atau pertanyaan yang bikin hati jleb sendiri ‘Istri kakak mana, kenalin dong’. Tapi semuanya tertahan dikerongkongan.

“Dik Aisyah apa kabar?” kak Faaris memecah keheningan. Aku gugup sekali. Perasaan ku campuraduk.

“Alhamdulillahkak, baik, kakak sendiri gimana?” ucapku sekedarnya. Aku tidak berani menatap mata kak Faaris, takutjika akhirnya aku malah tenggelam dalam mata hujannya.

“Insya Allah kalau dik Aisyah baik, kakak juga baik” demi apa dengan kalimat ini sajaa sanggup membuat ku melayang diudara. senyum pengantar pagi ala kak Faaris terbit lagi, membuat ku menggigil karna begitu menyejukkan.

“Oh ya istri kak Faaris mana? Kenalin dong hehe?” akhirnya pertanyaan itu muncul dari bibirku diselingi tawa yang terdengar aneh sekali.

“Istri?” bibir kak Faaris berkedut menahan senyum.

“Saya sedang menunggu seseorang pulang dari Palestina” ucapnya, aku mengerjap-ngerjapkan mataku takut jika ini mimpi. Rasanya ribuan kupu-kupu mengepakkan sayap nya diatas kepalaku dan ribuan daun waru khas musim semi berguguran diantara kami berdua.

“ha?” aku masih tidak mampu mengontrol hormon dopamin ku yang sedang menguar. Kak Faaris tersenyum lagi.

“Iya, mau tidak dik Aisyah menjadi istri dan ibu dari anak-anak kita kelak?” aku mengangguk tersenyum dan menangis bahagia.

“Jatuh cinta itu enggak perlu diumbar ukhti, cukup hanya kita dan Allah saja yang tahu. Jika kamu benar-benar tulang rusuknya yang hilang, dia tidak akan berpaling, karena Allah akan mengantarnya untuk menjemput tulang rusuknya yaitu kamu”

Written by : Riend Humairah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s