Merak Bulan Di Ujung Senja

Senja di sore itu.
Biaskan mentari tenggelam.
Seakan ku terbang dalam lamunan pekat memudar.
Terpaku dalam imaginasi.
Secarik senyum dengan warna memerah.
Merona menantang hasrat di jiwa.
Tatap mata yang sayu, gambarkan lelah jiwamu.
Rambut lurusmu yang berderai di terpa angin tepian sungai.
Jiwaku melemah, ketika ku tatap linang air matamu.
Mengalir menggaris pipi indahmu.
Tersenyumlah manis.
Bagaimana aku menulis jika ku tatap kau menangis.
Bagaimana ku dapatkan tawa jika rasamu sendu.
Andai dapat ku gapai rembulan.
Akan ku daki gunung hingga puncak nirwana.
Ku petikkan untukmu dua bulan purnama.
Akan ku tuang air ke lembah asmara, agar terlihat indah senyum penuh kasihmu.
Lama kira ku rasa, tak rasakan bahagiamu.
Tersenyum lah jelitaku.
Ku rinduka bercak bekas senyuman di pipimu.
Berlarian di tepian sungai.
Tetawa bersama gelapnya malam tanpa rembulan.
Di sudut hati yang tersudut.
Aku tulus dengan sayangku.
Aku rasakan getar mendalam saat ku genggam tanganmu.
Namun ku sadar.
Ku hanya seekor gagak rimba yang mengharap merak bulan.

 

Written by : Cemplenk Minoritas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s